Batik

Batik, dari seni sampai ABG

Batik bisa menjadi milik semua generasi

Belum banyak bahkan barangkali belum ada artikel komprehensif yang de facto diakui sebagai acuan sosioantropologi dalam memahami asal-muasal kata batik.

Beberapa dugaan mengatakan bawa batik diambil dari dua kata Jawa yaitu amba (sebagai padanan kata menulis) dan titik. Namun, ada juga yang mengira batik itu paduan dua kata tiba (lafalkan seperti membaca kata tibo yaitu artinya jatuh dalam bahasa Jawa) dan titik.

Penggunaan kata amba dan tiba punya argumen masing-masing. Amba memang logis karena membuat motif atau gambar batik itu dilakukan dengan menulis menggunakan canting yaitu alat yang aslinya terbuat dari bambu berisi lilin cair.

Begitu juga tiba, canting menggambarkan titik pada kain karena jatuhnya canting membentuk titik. Selanjutnya titik membentuk garis dan garis-garis mewujudkan gambar atau pola.

Dalam buku Geographical Indications Protection In Indonesia Based On Cultural Rights Approach, 2009, Miranda Risang Ayu melaporkan hasil pengumpulan data dan fakta tentang batik. Jelas digambarkan bahwa batik itu awalnya seni tradisional di Jawa baik di kalangan masyarakat pedalaman dan di pesisir.

Namun, dengan tumbuhnya peradaban dan mobilitas penduduk, batik bukan lagi bersifat eksklusif Jawa. Batik telah menjadi fenomena nasional, regional bahkan dunia. Pimpinan Negara peserta APEC di Bogor, November 1994, berpose dalam pakaian batik rancangan maestro batik, Iwan Tirta.

Acungan jempol untuk Presiden Soeharto yang sukses menduniakan batik mengingat foto dengan seragam batik itu menghiasi media cetak dan elektronik seluruh dunia. Salut pada Nelson Mandela yang telah menjadi ikon pemimpin dunia yang getol berpakaian batik.

Pewarnaan pada kain bukan unik budaya Indonesia. Masyarakat secara turun-temurun di Amerika Utara dan Amerika Latin, Afrika, Asia, Australia, dan Eropa telah melakukannya. Bukan hanya pada penggunaan pola dan warna, melainkan juga sebagai simbol suku, ras bahkan citra kerajaan atau bangsa. Namun, untuk sementara ini para ahli sepakat mengatakan bahwa batik itu unik sebagai karya seni Indonesia dalam pewarnaan pada kain.

Tidak ada kosakata dalam bahasa asing yang memiliki arti serupa apalagi sama dengan batik. Kata batik tidak hanya dapat ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tetapi juga di kamus-kamus lain seperti Webster.

Teknologi dapat didefinisikan sebagai paduan sempurna dari seni, ilmu alam dan matematika, rekayasa dan ekonomi. Batik sebagai sebuah karya seni sudah tidak lagi menjadi perdebatan.

Walau asal-muasalnya dari seni dalam masayarakat Jawa, tetapi telah pula menjadi seni yang diadopsi dunia dalam artian telah menjadi penghias berbagai artefak mulai dari alas kaki sampai interior, dari kain bernuansa klasik sampai kriya berbahan bambu, rotan, porselin sampai material polimer kompleks seperti kevlar.

Pembuatan batik bermula dari penggambaran titik menjadi garis kemudian menjadi pola matematika kompleks yang hanya bisa didekati dengan geometri fraktal. Begitu juga dalam proses pembuatan rancangan grafisnya, dari sekumpulan titik menjadi garis linier, sampai membentuk quarks bahkan sampai pada memetakan aksentuasi alam yang rumit seperti dinamika ombak dan awan.

Perekayasa kemudian mengambil peran bagaimana seni, ilmu alam dan matematika ini dapat dieksploitasi untuk memberikan nilai tambah pada kehidupan manusia baik untuk kenyamanan, keselamatan, pemuas sifat narsis sampai pada pola hidup atau life-style.

Batik sebagai kombinasi seni, ilmu alam dan matematika dengan rekayasa masih belum sempurna jika tidak berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi masyarakat luas.

Para ekonom kemudian melakukan intervensi positif dengan melalui penerapan kiat dan jurus ekonomi agar batik yang sangat eksklusif dapat masuk menjadi masal alias inklusif. Dengan peran ekonomi ini, sempurnalah batik sebagai artefak teknologi.

Bagaimana keempat komponen: seni, ilmu alam dan matematika, rekayasa dan ekonomi bersatu padu mendorong, mewarnai dan menyempurnakan ‘evolusi’ batik adalah wujud bagaimana aspek sosial merekonstruksi teknologi dan sebaliknya?

Kata evolusi sengaja dikurung tanda petik karena evolusi batik bukan seperti evolusi yang kita kenal dalam Teori Darwin yang belakangan ini ditengarai lebih pantas disebut sebagai Teori Evolusi Wallace.

Batik yang dikategorikan modern seperti batik cap sampai batik kontemporer dan fraktal tidak saling meniadakan terhadap batik yang dinilai klasik baik dari pola sampai pada teknik pembuatannya. Hidup berdampingan dengan pangsa pasar sendiri-sendiri menunjukkan keharmonisan dalam dunia batik. Coexistence menjadi pemerkaya ciri dunia batik.

ABG bersatu

ABG lazim kita kenal sebagai akronim dari Anak Baru Gede atau Generasi Milenial mengingat mereka dilahirkan pada periode pergantian abad ke-19 ke abad ke-20. Jika batik berhasil diadopsi menjadi bagian dari ABG yaitu sebagai life style dari kaum ABG, sempurnalah batik melekat dan menjadi milik semua generasi: The Silver Generation, The Baby Boomer, Gen-X dan Gen-Y atau dikenal juga sebagai Generation Millenial.

Namun, ABG yang akan dikupas disini adalah singkatan dari Akademikus, Bisnis, dan Pemerintah (atau Government, G) yang lazim dikenal sebagai The Triple Helix.

Kata apa (what), mengapa (why) dan bagaimana (how) adalah kata-kata yang senantiasa melekat dalam sosok akademikus. Mencari tahu, memahami, menirukan sampai pada upaya memberi nilai tambah pada fenomena alam menjadi keseharaian kaum ilmiah ini.

Berbasis pada perilaku kaum intelek ini, Ki Hajar Dewantara dan R. M. Kartono sampai mengenalkan tiga kata sakti dalam dunia akademik yaitu niteni, niroake dan nambahake yang menjadi jurus-jurus pamungkas dalam inovasi, khususnya untuk menghasilkan karya-karya batik tradisional dan kontemporer.

Jika dalam banyak artefak teknologi, kuno itu adalah komplementer terhadap modernitas, tidak demikian dengan batik. Tradisional bukan berarti kuno melainkan harmonis bersama kekinian, In Harmonia Progressio, meminjam tagline kampus ITB.

Dunia swasta atau bisnis tentu lebih tertarik bagaimana menjadikan batik sebagai komoditas ekonomi yang secara berkelanjutan memberi manfaat atau berkontribusi pada penambahan profit karena ini yang dipandang sebagai ruh dari bisnis.

Menghasilkan batik yang berpotensi diserap pasar dan menjadi gaya hidup keempat generasi yang kini hidup berdampingan menjadi pemacu adrenalin para entrepreneur di sektor produksi, keuangan sampai ritel. Ekonomi kreatif yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentu mencakup batik sebagai salah satu komponen utamanya.

Memperjuangkan batik dalam sidang United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) yang akan mencapai puncaknya pada pada pengumuman bahwa batik diakui sebagai kekayaan dunia asli Indonesia yaitu tanggal 2 Oktober 2009 adalah wujud nyata kekompakan atau bersatunya A, B dengan G, kala The Triple Helix menunjukkan keterpaduan dan kesungguhan.

Aku cinta, aku bikin, aku beli, dan aku pakai batik!

Oleh Kusmayanto Kadiman
Menegristek

sumber : Bisnis Indonesia (01/10/2009)

Share or Bookmark This Post
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
  • Digg
  • email

This site is protected by WP-CopyRightPro