Batik

Batik Kebumen Siap Go International

Tidak banyak publikasi atas keberadaan batik tulis asli Kebumen, Jawa Tengah, yang dilakukan para perajin ataupun stakeholders (pemangku kepentingan). Padahal, secara kualitas dan potensi pasarnya sangat menjanjikan.

Berdasarkan informasi dari masyarakat produsen, pelaku usaha maupun asosiasi perajin batik dari daerah pesisir selatan di daerah Jawa tengah tersebut, kegiatan membatik dan bisnisnya sebenarnya sudah dikenal selama tujuh turunan.

Dalam 2 tahun terakhir, industri batik kebumen kini dikembangkan kembali di tujuh sentra batik yang terpisah di tujuh desa wilayah pada Kabupaten Kebumen. Sekitar 170 perajin batik kini sudah terdata masuk dalam kelompok itu.

Arif S.Munandar, koordinator perajin di tujuh sentra batik kebumen, mengemukakan seluruh perajin kini bertekad mengangkat kembali industri batik dari daerah mereka yang selama ini seakan terlupakan sebagai salah satu daerah penghasil batik.

“Tanpa berniat mendiskreditkan industri batik di beberapa daerah di Pulau Jawa, sebenarnya asal mula batik mereka dari Kebumen. Beberapa kabupaten bahkan mengklaim bahwa merekalah yang menemukan motif batik tersebut,” ungkap Arif.

Sejarah batik Ciamis, misalnya, berawal dari kedatangan ahli batik dari Kebumen, sama halnya dengan industri batik di Jambi. Menurut Arif, industri batik di kedua daerah tersebut berawal dari perpindahan ahli batik dari Kebumen, tepatnya dari Kuto Winangun.

Fenomena itu mengindikasikan bahwa industri batik dari Kebumen memang sangat kuat. Kaum ningrat dari keraton di Jawa Tengah bahkan mempercayakan kepada perajin batik Kebumen untuk menghasilkan kain batik sesuai dengan ciri khas keraton.

Dengan kekuatan berbeda pada tujuh sentra batik di Desa Seliling, Jemur, Tanuraksan, Batil, Surotrunan, Kambangsari, Pesawahan dan Ganggengan, Kebumen, telah mendeklarasikan bahwa dalam 2 tahun ke depan, industri batik daerah tersebut bisa sejajar dengan produsen batik dari daerah lain seperti Pekalongan, Solo, maupun Yogyakarta.

“Sebelum itu, kami memiliki obsesi agar batik Kebumen dikenal lebih dulu secara luas di masyarakat. Sebab, dalam buku sejarah batik, Kebumen selalu terlupakan. Daerah lain penghasil batik selalu disebut-sebut, tetapi Kebumen selalu terlupakan.”

Setelah dikenal, akan ada semacam massalisasi produk yang tetap mengedepankan khazanah alam sebagai kekuatan batik kebumen. Kekuatan semacam ini bagi daerah penghasil batik lainnya, justru rata-rata sudah membias.

Bukti bahwa batik kebumen tetap memiliki kekuatan, tertuang dalam komunitas di beberapa kota besar yang terus memesan produk batik untuk mereka pakai dalam kegiatan-kegiatan khusus.

Dukungan moril yang diberikan oleh komunitas tersebut, membuat perajin batik kebumen terdorong melakukan upgrading melalui berbagai fasilitas teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk mengangkat kembali batik kebumen ke pasar nasional.

Penerapan teknologi diperlukan, karena sampai saat ini industri batik kebumen baru bisa melayani kebutuhan konsumennya sekitar 30%. Yang mengejutkan adalah konsumen mereka sudah melakukan indent produk hingga 2011. Batik tulis lembaran dijual mulai kisaran Rp100.000-Rp1 juta-an.

Kaya motif

Berbicara tentang motif, Arif mengemukakan batik kebumen sangat kaya, karena jumlahnya lebih dari 200. Bahkan hampir dua kali lebih besar jumlahnya, karena perajin mulai mengangkat motif-motif yang sudah lama tidak diproduksi.

Muhtadin, salah satu dari perajin batik Kebumen, menjelaskan karena di daerahnya memang memiliki sejarah batik yang sangat kuat, maka dia hanya perlu belajar sekitar 2 tahun untuk memahami seluk-beluk seni membatik.

Perajin dari kelompok Mekar Sari tersebut menuturkan meski kapasitas produksi Kebumen masih terbatas, sekitar 170 lembar kain batik setiap bulan, sudah ada yang menembus beberapa negara.

“Ini disebabkan tarikan oleh tangan-tangan pembatik dari kebumen berbeda dengan tarikan pembatik dari daerah lain di seluruh Indonesia. Motif yang paling banyak dihasilkan bernuansa alam, baik yang terkait dengan dunia flora dan fauna.”

Berkat koordinasi tersebut, motif-motif asli dari Kebumen seperti jagatan, serikit, ngabah butah, kawung jenggot, pugeran, gringsing, ukel cantel, sudah mulai dikenal di beberapa kota besar Indonesia.

Jenis paling mahal adalah batik tulis jagatan dan serikit, karena tingkat kesulitan pembuatannya tinggi. Selain itu bahan bakunya berkualitas nomor satu yang dipesan langsung dari Pekalongan.

“Meski masih dalam kapasitas kecil, batik tulis dari Kebumen sudah memiliki konsumen tetap di Thailand, Malaysia, Selandia Baru, Denmark, dan Belanda,” ungkap Hera. (ginting.munthe@bisnis.co.id)

Oleh Mulia Ginting Munthe
Wartawan Bisnis Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia (8 Juni 2010)

Share or Bookmark This Post
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
  • Digg
  • email

No Comments to “Batik Kebumen Siap Go International”

Leave a Reply

(required)

(required)


This site is protected by WP-CopyRightPro