Batik, Warisan Budaya Yang Harus Diselamatkan
Hanya dalam hitungan pekan, Indonesia melengkapi kebanggaannya sebagai negara yang kini memiliki tiga warisan budaya bukan benda (intangible heritage)yang diakui oleh UNESCO (United Nation Educational Scientific and Cultural Organization).
Menyusul wayang (2003) dan keris (2005), batik Indonesia akhirnya tinggal menunggu waktu saja untuk diakui sebagai kebudayaan asli yang berasal dari Indonesia. Adapun, angklung sedang dalam proses.
Praktis pengakuan ini akan membuat Indonesia sedikit bernapas lega dan boleh jadi tersenyum bangga, di tengah hangatnya klaim Malaysia atas Tari Pendet, menyusul klaim sebelumnya atas kesenian Indonesia, di antaranya Reog Ponorogo dan lagu Rasa Sayange.
Dan di tengah berangnya masyarakat Indonesia atas tindakan Malaysia itu, sebuah hajatan besar kembali digelar, yakni Gelar Batik Nusantara (GBN). Pameran yang digelar sejak 26 Agustus dan ditutup kemarin, setidaknya menjadi momentum untuk menyadarkan bangsa Indonesia bahwa masih ada warisan budaya yang harus diselamatkan agar tidak jatuh untuk kesekian kalinya atas klaim negara lain.
Lebih dari itu, ajang tersebut merupakan langkah promosi produk budaya Indonesia agar semakin dikenal luas, tidak hanya di kalangan sendiri, tetapi juga di kalangan negara lain.
Dalam GBN, tercatat sebanyak 400 perusahaan dari berbagai daerah di Indonesia, meliputi para perajin dan produsen batik, pembina UKM (BUMN/BUMD); asosiasi; dinas-dinas terkait; produsen kerajinan, furnitur & interior batik; dan berbagai komponen pendukung yang menempati kurang lebih 300 stan.
Tampak jelas aura kebanggaan dari Ibu Negara, Ani Yudhoyono, yang pada awal pembukaan GBN hadir untuk membuka gelaran tersebut. Ani memiliki harapan besar agar gelaran yang mempresentasikan karya para perajin akan menaikkan citra Indonesia sebagai negara utama yang memproduksi batik.
Selain itu, melalui GBN yang pada tahun ini memasuki tahun keenam, yang dibalut dengan tema Batik Forever, diharapkan kharisma batik tidak akan pupus dilekang masa.
Ketika kharisma batik telah melekat erat dalam diri seseorang, kecintaan terhadap produk budaya pun akan tercipta. Jika kedua hal itu berkolaborasi, rasa memiliki secara otomatis akan tercipta.
Hal ini juga menjadi selaras dengan upaya pemerintah yang kini tengah menggalang Kampanye Cinta Indonesia terhadap sejumlah produk Indonesia, termasuk produk budaya.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang didaulat secara khusus berlenggak-lenggok di atas catwalk mengenakan batik dalam acara pembukaan GBN mengakui batik sedang ‘menggila’ dan telah melintas batas generasi serta mulai digemari kalangan muda.
Booming batik bahkan juga terasa di beberapa negara lain yang juga mengaku memiliki batik sebagai salah satu produk budayanya. Sebut saja dua negara, yakni China dan Malaysia.
Bahkan, sialnya, batik sablon asal China murahan itu, malah marak dijual di sejumlah sentra perdagangan tekstil di Indonesia.
Terkait dengan ini, Mari mengatakan pengakuan batik menjadi warisan budaya asli Indonesia menjadi momentum paling penting dan sepantasnya dirayakan dengan kebanggaan, sebab pengakuan tersebut akan mengikis klaim atau upaya ke arah pengklaiman yang dilakukan oleh suatu negara.
Namun, identitas baru yang akan disematkan atas produk budaya Indonesia tersebut seharusnya diikuti pula oleh upaya lain, seperti penguatan corak akan batik Indonesia. Ketika sebuah corak telah melekat erat menjadi sebuah kekhasan dari batik Indonesia, tentu upaya pengklaiman atas produk kita menjadi hal yang tidak mudah.
Diserbu pengunjung
Berdasarkan pemantauan Bisnis pada areal seluas 15.000 m2 di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), selama 5 hari berlangsungnya GBN, tempat tersebut diserbu pengunjung, tua dan muda.
Selain menargetkan penjualan langsung dari ajang tersebut, tentu gelaran yang dimotori oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) ini juga menyasar nilai kontrak [penjualan tak langsung] sebagai hasil temu muka antara pihak buyer dan seller, baik dari dalam maupun luar negeri.
Gelaran ini juga menjadi momentum yang tepat di tengah persiapan menjelang Lebaran, di mana semua orang mulai bergerilya mempersiapkan diri, termasuk persiapan pakaian.
Di atas semua itu, tentu ada nilai lebih yang didapat, bukan? Setidaknya kita bisa menyelamatkan satu produk budaya yang boleh jadi tengah menjadi incaran klaim bangsa lain…. Semoga tidak! (maria.benyamin@bisnis.co.id)
Oleh Maria Y. Benyamin
Wartawan Bisnis Indonesia

Komunitas Tangan Di Atas
Komunitas TDA Depok
No Comments to “Batik, Warisan Budaya Yang Harus Diselamatkan”