Batik

Tembus Pasar Turki, Desain Batik Harus Diperkuat

OLEH MULIA GINTING MUNTHE

Bisnis Indonesia

Masih perlu perjuangan optimal untuk memasuki pasar Turki dengan memanfaatkan peluang dari sisi desain, sebab dari nilai seni, negara tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Lutfi Ganie, pemilik rumah fashion dan desain Azio di Jakarta, mengemukakan jika Indonesia ingin masuk pasar Turki melalui produk batik, yang harus diperkuat adalah desain maupun pewarnaannya agar lebih selaras dengan kultur negeri itu.

“Kalau kita mau mengunggulkan produk batik, tenun, maupun buatan tangan, nilai karya seni mereka masih lebih tinggi diban dingkan Indonesia. Kalau kita memasarkan batik lembaran, mereka justru tidak tertarik,“ katanya kepada Bisnis, kemarin.

Pada awal Juli 2010, Lutfie mengikuti pameran bersama beberapa perajin dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) batik Indonesia ke Istanbul, Turki. Meski transaksi cukup tinggi, dia menyarankan agar perajin maupun pelaku usaha mempertimbangkan kekuatan komoditasnya.

Kekuatan tersebut dari sisi desain maupun pewarnaan. Sebab, batik bagi masyarakat Turki, khususnya di kota Istanbul, belum dikenal secara detail tentang komoditasnya. Baik yang dihasilkan secara manual maupun industri mesin.

Karena itu Lutf imenyarankan jika pelaku UKM Indonesia ingin menjadikan Turki menjadi pasar produk batik maupun garmen lain, supaya memahami lebih dulu kultur Turki.

“Saya sarankan, jangan pernah membawa batik lembaran untuk dipasarkan di sana.“

Berdasarkan diskusi yang dilakukannya dengan beberapa desainer Turki, disarankan agar harus memahami desain yang digemari masyarakat di sana. Dengan demikian, pemasaran komoditas batik bisa diterima oleh masyarakatnya.

Prijadi Atmadja, Asisten Deputi Urusan Ekspor dan Impor Kementerian Koperasi dan UKM membenarkan argumentasi yang disampaikan Lutfi, bahwa pemasaran batik ke Turki masih perlu perjuangan ekstra.

“Kalau kita bicara tentang kain tenun misalnya, hasil tenunan mereka jauh lebih bagus dibandingkan dengan tenun yang dihasilkan perajin UKM kita. Tenunan Pasmina mereka, misalnya, lebih dulu dikenal dunia internasional.“

Adapun penyesuaian yang harus dilakukan, a.l. penggunaan warna pada batik. Sebab, batik Indonesia cenderung dengan dominasi warna cokelat, sedangkan produksi garmen Turki sangat berwarna.

Untuk membandingkan tingginya nilai seni Turki,kata Prijadi, bisa dibandingkan dengan seni keramik negara lain, termasuk Indonesia. Seni keramik yang dimiliki Turki sudah dikenal secara internasional.

Sumber : Bisnis Indonesia (21/07/2010)

Share or Bookmark This Post
  • Facebook
  • Twitter
  • Google Bookmarks
  • del.icio.us
  • Digg
  • email

Share

One Comments to “Tembus Pasar Turki, Desain Batik Harus Diperkuat”

  1. Antara senang dan Ciut Nyali saya setelah membaca tulisan ini….Senang karena bisa tahu sedikit banyak tentang situasi Market Batik di Turki, dan Ciut Nyalinya karena saat ini kami baru bisa produksi batik Tulis warna Alam dalam bentuk Lembaran ( Not recomendations ).
    Tetapi Kami tetap semangat….Insya Alloh Tuhan selalu bersama Batik Tulis Product Kami “Batik Canting100-Bedono,Kab.Semarang” ( http://batiktuliscanting100.blogspot.com )…Adapun Jepang dan Timur Tengah adalah target Market Kami !!

Leave a Reply

(required)

(required)


This site is protected by WP-CopyRightPro